
BRK Syariah, dari konversi menjadi gerakan ekonomi

Pekanbaru (ANTARA) - Empat tahun bukan waktu yang panjang bagi sebuah institusi perbankan. Namun bagi PT Bank Riau Kepri Syariah (Perseroda) atau BRK Syariah, empat tahun sejak bertransformasi menjadi bank umum syariah merupakan periode penting untuk membuktikan bahwa perubahan fundamental tersebut mampu menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Konversi BRK menjadi bank umum syariah pada 2022 bukan sekadar perubahan identitas dan sistem operasional. Transformasi tersebut membawa konsekuensi untuk membangun model bisnis yang tetap kompetitif, namun sekaligus menjadikan prinsip syariah sebagai fondasi dalam pelayanan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Empat tahun kemudian, jejak transformasi itu terlihat dalam semakin beragamnya peran BRK Syariah, mulai dari literasi dan inklusi keuangan, pemberdayaan UMKM, pengembangan produk syariah, digitalisasi layanan, hingga dukungan terhadap program pembangunan pemerintah daerah.
Salah satu capaian yang paling dekat dengan masyarakat adalah keberhasilan BRK Syariah meraih dua penghargaan Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) 2026 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riau. Penghargaan tersebut diberikan atas capaian pembukaan rekening pelajar terbanyak dan kegiatan edukasi KEJAR terbanyak.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa fungsi BRK Syariah semakin diperluas dari sekadar lembaga transaksi keuangan menjadi bagian dari proses membangun kebiasaan finansial masyarakat sejak usia dini.
Plt Kepala OJK Provinsi Riau Mohammad Fredly Nasution menilai edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan penting untuk membangun budaya menabung.
“Kami berharap budaya menabung dapat tumbuh di lingkungan sekolah dan keluarga. Semakin sering pelajar mendapatkan edukasi, semakin kuat pula pemahaman mereka dalam mengelola keuangan secara sehat,” ujarnya.
Upaya tersebut bahkan dilakukan langsung di lingkungan sekolah. BRK Syariah sebelumnya membuka 300 rekening SimPel di SMPN 37 Pekanbaru sebagai bagian dari penguatan budaya menabung di kalangan pelajar.
Dari generasi muda, perhatian BRK Syariah bergerak kepada kelompok yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah, yakni pelaku UMKM.
Melalui Workshop Akselerasi Pembiayaan UMKM, BRK Syariah memberikan edukasi mengenai pencatatan keuangan menggunakan SiAPIK Bank Indonesia sekaligus pemahaman mengenai SLIK OJK. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pembiayaan tidak cukup hanya dengan menyediakan modal, tetapi juga perlu diikuti peningkatan kapasitas pengelolaan usaha.
“Pengembangan UMKM bukan hanya soal tambahan modal atau perluasan jaringan usaha. Pencatatan keuangan yang baik menjadi fondasi penting agar pelaku usaha dapat mengetahui perkembangan usahanya, mengelola arus kas, serta merencanakan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan,” kata Plt Direktur Utama BRK Syariah Helwin Yunus.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah baru pembiayaan BRK Syariah. Bank tidak hanya berposisi sebagai pemberi pembiayaan, tetapi berusaha menjadi mitra yang membantu pelaku usaha membangun fondasi bisnis yang lebih sehat.
Di Batam, misalnya, BRK Syariah mencatat penyaluran pembiayaan kepada pelaku UMKM sekitar Rp13,3 triliun secara keseluruhan, dengan penyaluran sekitar Rp56 miliar pada 2025 dan lebih dari Rp16 miliar hingga April 2026.
Peran sebagai bank pembangunan daerah juga semakin terlihat dalam penguatan ekosistem investasi.
Pemerintah Provinsi Riau mendorong perusahaan yang beroperasi di daerah untuk menggunakan BRK Syariah sebagai mitra perbankan. Langkah tersebut diarahkan agar aktivitas ekonomi perusahaan dapat ikut memperkuat bank milik daerah dan pada akhirnya memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian masyarakat Riau.
Asisten III Sekretariat Daerah Provinsi Riau M. Job Kurniawan sebelumnya menegaskan pentingnya kolaborasi dalam memperluas akses keuangan masyarakat.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam mempercepat akses keuangan masyarakat. Kita membutuhkan energi bersama antara OJK, Bank Indonesia, perbankan, dunia pendidikan, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder,” katanya.
Semangat kolaborasi tersebut juga tercermin dalam berbagai kegiatan literasi keuangan syariah yang dilakukan BRK Syariah. Melalui program GERAK Syariah, misalnya, edukasi tidak hanya dilakukan di Riau, tetapi juga menjangkau wilayah Kepulauan Riau seperti Batam, Tanjungpinang dan Karimun.
Helwin Yunus menilai literasi keuangan syariah harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak.
“Sejak konversi menjadi bank syariah, BRK Syariah terus berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi umat melalui penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah,” ujarnya.
Transformasi tersebut juga mendorong BRK Syariah memperkuat inovasi produk. Pengembangan bisnis emas dan layanan rahn menjadi salah satu langkah untuk menangkap kebutuhan masyarakat terhadap produk keuangan berbasis syariah.
Helwin menyebut emas harus menjadi salah satu produk unggulan BRK Syariah. Karena itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui sertifikasi penaksir emas menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis tersebut.
“Emas harus menjadi salah satu produk unggulan BRK Syariah. Kita tidak hanya mengandalkan petugas gadai, tetapi seluruh insan BRK Syariah harus mampu menjadi duta yang memperkenalkan dan memasarkan produk emas kepada masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, transformasi BRK Syariah juga semakin diarahkan untuk mendukung digitalisasi pelayanan publik. Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Riau melalui layanan penerimaan pembayaran pendapatan daerah secara digital menjadi salah satu contohnya.
Sebagai BUMD, Helwin menegaskan BRK Syariah memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung program strategis pemerintah, terutama dalam transformasi digital pelayanan publik.
Rangkaian capaian tersebut memperlihatkan bahwa empat tahun konversi telah membawa BRK Syariah ke ruang yang lebih luas.
Bank tidak lagi hanya berbicara tentang simpanan, pembiayaan dan transaksi. Ia mulai hadir di ruang kelas melalui edukasi keuangan, di pasar melalui pemberdayaan UMKM, di ruang investasi melalui kemitraan usaha, serta di ruang pelayanan publik melalui digitalisasi.
Tantangan berikutnya tentu tidak ringan. BRK Syariah harus menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, kualitas layanan dan inovasi agar mampu bersaing dalam industri perbankan yang terus berubah.
Helwin sebelumnya menegaskan bahwa BRK Syariah memiliki fondasi produk dan infrastruktur yang kuat untuk bersaing sebagai bank pembangunan daerah. Namun, kekuatan tersebut harus disatukan melalui sinergi dan pengelolaan risiko yang baik.
“BRK Syariah memiliki kekuatan yang besar. Dengan sinergi dan penyelarasan yang tepat, kita optimistis dapat terus meningkatkan kinerja sekaligus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Empat tahun setelah konversi, capaian BRK Syariah pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan bisnis.
Ada indikator yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: semakin banyak pelajar mengenal budaya menabung, semakin banyak UMKM memperoleh akses pembiayaan dan pendampingan, semakin luas pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah, serta semakin kuat keterhubungan bank daerah dengan aktivitas ekonomi pemerintah dan dunia usaha.
Di titik itu, konversi BRK menjadi bank umum syariah menemukan makna yang lebih besar.
Ia bukan sekadar perubahan dari sistem konvensional menuju syariah, tetapi sebuah perjalanan untuk membangun bank daerah yang mampu tumbuh bersama masyarakat, menggerakkan ekonomi daerah, dan menghadirkan nilai tambah yang dapat dirasakan Riau dan Kepulauan Riau.
Empat tahun mungkin baru sebuah awal. Namun dari capaian yang telah ditorehkan, BRK Syariah sedang menunjukkan bahwa transformasi perbankan dapat menjadi jalan untuk memperluas kemanfaatan dari sekadar layanan keuangan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

