
Paceklik emas Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF berlanjut, Amri/Nita bawa pulang Perunggu

Jakarta (ANTARA) - Paceklik medali emas Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF belum berakhir. Ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menjadi harapan terakhir Merah Putih di edisi 2026, tetapi langkah mereka terhenti di semifinal di New Delhi, India, Sabtu.
Amri/Nita harus mengakui keunggulan pasangan nomor satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, setelah melalui pertarungan sengit selama 97 menit. Mereka kalah tipis 22-20, 14-21, 20-22.
Kekalahan tersebut memastikan Amri/Nita membawa pulang medali perunggu sekaligus menjadi satu-satunya penyumbang medali Indonesia tahun ini. Namun, hasil itu juga memperpanjang penantian Merah Putih untuk kembali berdiri di podium tertinggi Kejuaraan Dunia.
Terakhir kali Indonesia meraih emas terjadi pada 2019 di Basel, Swiss, ketika Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menaklukkan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi 25-23, 9-21, 21-15. Gelar tersebut merupakan titel dunia ketiga Ahsan/Hendra setelah sebelumnya mereka juara pada 2013 dan 2015.
Sejak saat itu, Indonesia memang tidak pernah pulang dengan tangan kosong dalam setiap Kejuaraan Dunia yang diikuti. Akan tetapi, medali emas belum juga kembali ke pangkuan Merah Putih.
Indonesia absen pada Kejuaraan Dunia 2021 di Huelva, Spanyol. Saat itu, PBSI menarik seluruh wakil Indonesia dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan di tengah penyebaran varian Omicron COVID-19.
Ketika kembali tampil di Tokyo pada 2022, Ahsan/Hendra kembali menjadi tumpuan utama. Mereka mencapai final, tetapi harus puas dengan medali perak setelah dikalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik dari Malaysia 19-21, 14-21. Medali perunggu dari Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto membuat Indonesia membawa pulang dua medali.
Setahun berselang, tongkat estafet medali berpindah ke ganda putri. Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti mencapai final Kejuaraan Dunia 2023 di Kopenhagen, tetapi takluk dari unggulan pertama asal China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, dengan skor 16-21, 12-21.
Kejuaraan Dunia tidak digelar pada 2024 karena kalender bulu tangkis bertepatan dengan penyelenggaraan Olimpiade Paris.
Pada edisi 2025 di Paris, giliran Putri Kusuma Wardani yang mempertahankan tradisi Indonesia berada di podium. Putri mencapai semifinal sebelum dihentikan tunggal putri Jepang Akane Yamaguchi melalui pertarungan tiga gim, 17-21, 21-14, 6-21.
Kini, tradisi medali tersebut diteruskan Amri/Nita.
Menariknya, pasangan yang menjalani debut di Kejuaraan Dunia itu justru menjadi wakil Indonesia yang melaju paling jauh di New Delhi. Datang tanpa status unggulan, Amri/Nita mampu menyingkirkan sejumlah pasangan papan atas.
Di babak 16 besar, mereka mengalahkan juara All England 2026 Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan. Pada perempat final, Amri/Nita kembali membuat kejutan dengan menaklukkan unggulan ke-11 Yang Po-Hsuan/Hu Ling Fang.
Tiket ke final pun sempat berada dalam jangkauan ketika Amri/Nita memaksa Feng/Huang bertarung ketat hingga gim penentuan. Skor bahkan mencapai 20-20, membuat peluang Indonesia untuk kembali memiliki wakil di final Kejuaraan Dunia terbuka lebar.
Namun, dua poin terakhir menjadi milik pasangan China. Amri/Nita pun harus puas dengan perunggu, sementara Indonesia kembali gagal mengirimkan wakil ke partai final.
Dalam empat edisi Kejuaraan Dunia yang diikuti Indonesia sejak terakhir kali Ahsan/Hendra meraih emas pada 2019, Merah Putih telah mengoleksi lima medali, terdiri atas dua perak dan tiga perunggu.
Penyumbangnya pun datang dari berbagai sektor: Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian melalui ganda putra pada 2022, Apriyani/Fadia dari ganda putri pada 2023, Putri Kusuma Wardani dari tunggal putri pada 2025, dan kini Amri/Nita dari ganda campuran pada 2026.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu mempertahankan tradisi berada di podium Kejuaraan Dunia. Namun, tujuh tahun setelah kejayaan Ahsan/Hendra di Basel, satu pertanyaan yang sama masih menggantung: kapan medali emas kembali menjadi milik Merah Putih?
Pewarta : Muhammad Ramdan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

