
Sekjen PBB prihatin konflik Rusia-Ukraina kian memanas, desak gencatan senjata segera
New York (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang terus meningkat, termasuk meluasnya serangan hingga ke wilayah Rusia.
“Sekjen Guterres tetap sangat prihatin atas eskalasi konflik yang terus berlanjut ini, termasuk hingga ke wilayah Federasi Rusia,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers, Kamis (20/8).
Guterres menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil tidak dapat dibenarkan dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional, di mana pun serangan tersebut terjadi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Guterres kembali menyerukan agar seluruh pihak segera menurunkan eskalasi dan memberlakukan gencatan senjata tanpa syarat sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik secara damai.
Di sisi lain, Rusia terus memperingatkan bahwa pasokan senjata kepada Ukraina justru menghambat upaya perdamaian. Moskow juga menilai dukungan militer dari negara-negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berpotensi menyeret mereka semakin jauh ke dalam konflik.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan menyatakan bahwa setiap pengiriman senjata untuk Ukraina akan dipandang sebagai target sah oleh Rusia.
Sebelumnya, pada 28 Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan harapan agar dialog mengenai Ukraina dengan Amerika Serikat tetap berlanjut setelah berakhirnya fase panas konflik Iran.
Putin juga menegaskan kesiapan Rusia untuk kembali ke meja perundingan dan membahas berbagai rincian serta isu yang sebelumnya telah dibicarakan dalam pertemuan di Anchorage, Alaska, pada Agustus 2025.
Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia tetap terbuka terhadap penyelesaian krisis Ukraina melalui jalur damai. Namun, ia menegaskan bahwa Moskow memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi militernya apabila diperlukan.
Ketegangan yang terus meningkat tersebut membuat seruan PBB untuk menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil kembali menjadi sorotan internasional.
Sumber: Sputnik
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
