
Universitas Abdurrab dan Desa Rimbo Panjang bersinergi perkuat kesiapsiagaan Karhutla dan dorong UMKM lokal

Pekanbaru (ANTARA) - Pemerintah Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar bersama perguruan tinggi terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui pengembangan produk berbasis potensi desa.
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) 2026 yang dilaksanakan di Desa Rimbo Panjang dengan fokus pada penguatan kader kesehatan masyarakat serta pengembangan kelompok Industri Rumah Tangga (IRT) PONARI (Kelompok Nenas Berduri).
Program ini mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Rimbo Panjang di bawah kepemimpinan Kepala Desa Ben Zainal Arifin. Pemerintah desa memberikan dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, serta peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Rimbo Panjang, Ben Zainal Arifin, menyampaikan bahwa kegiatan pemberdayaan seperti ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
“Program yang melibatkan masyarakat secara langsung seperti ini sangat bermanfaat karena masyarakat tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia berharap pendampingan yang dilakukan melalui program PMM dapat memperkuat peran kader kesehatan desa dan membantu kelompok usaha masyarakat dalam mengembangkan produk lokal sehingga memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketua pelaksana kegiatan PMM, Sepridawati Siregar, S.Si., M.T., Ph.D, merupakan dosen di Universitas Abdurrab, mengatakan program ini dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat Desa Rimbo Panjang yang memiliki kerentanan terhadap dampak karhutla dan kabut asap, khususnya terhadap kesehatan masyarakat serta penguatan ekonomi keluarga.
“Pendekatan program ini menggabungkan aspek kesehatan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi. Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan menghadapi risiko lingkungan sekaligus mampu mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di desa,” katanya.
Pada kelompok kader Posyandu dan masyarakat, kegiatan difokuskan pada peningkatan kapasitas dalam kesiapsiagaan menghadapi karhutla, pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pencegahan stunting.
Melalui kegiatan pendampingan, kader mendapatkan penguatan berupa penyusunan SOP tanggap darurat kabut asap/karhutla, SOP deteksi dini ISPA, modul edukasi, booklet, media penyuluhan, serta formulir monitoring kesehatan masyarakat.
Selain itu, kegiatan juga mencakup edukasi penggunaan masker yang tepat, etika batuk, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kesehatan, serta penguatan peran kader sebagai penghubung antara masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sementara itu, pada kelompok IRT PONARI, program diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha melalui pemanfaatan potensi lokal Desa Rimbo Panjang berupa nanas dan bahan herbal seperti jahe, kunyit, kayu manis, serta sereh.
Pendampingan dilakukan mulai dari proses produksi, peningkatan kebersihan pengolahan, pengemasan, pelabelan produk, pencatatan keuangan sederhana, hingga strategi pemasaran.
Melalui kegiatan tersebut, kelompok usaha masyarakat mulai menerapkan pengelolaan usaha yang lebih terstruktur dan memanfaatkan pemasaran melalui berbagai saluran, baik secara langsung maupun melalui media digital.Selain peningkatan kemampuan masyarakat, program ini juga menghasilkan berbagai perangkat pendukung seperti SOP, modul edukasi, media kesehatan, serta dukungan peralatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Sepridawati berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kader, dan kelompok usaha dapat terus berjalan sehingga hasil program memberikan dampak jangka panjang.
“Keberlanjutan menjadi hal utama. Pengetahuan, sistem, dan fasilitas yang sudah diberikan harus terus dimanfaatkan agar masyarakat semakin mandiri,” ujarnya.
Program PMM 2026 ini menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis kebutuhan masyarakat melalui penguatan kapasitas manusia, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan pengembangan potensi lokal Desa Rimbo Panjang.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan melalui pendanaan program PMM ini. Dukungan tersebut memungkinkan perguruan tinggi dapat hadir secara nyata dalam memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat dan mendorong pengembangan potensi lokal desa,” ujar Sepridawati.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

