Logo Header Antaranews Riau

Penelitian ungkap rahasia percakapan yang langsung nyambung bukan sekadar topik

Kamis, 6 Agustus 2026 10:26 WIB
Image Print
Ilustrasi - Dua orang sahabat sedang mengobrol dan bercanda. ANTARA/Pexels/am.

Jakarta (ANTARA) - Pernah merasa baru beberapa menit mengobrol dengan seseorang, tetapi langsung terasa akrab dan "nyambung"? Penelitian terbaru mengungkap bahwa rahasianya bukan semata-mata terletak pada topik pembicaraan, melainkan pada bagaimana aktivitas otak kedua orang menjadi selaras selama percakapan berlangsung.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience ini menunjukkan bahwa rasa terhubung muncul ketika otak dua orang bekerja dalam irama yang sama saat mereka saling berinteraksi.

Melansir Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) melibatkan 70 pasangan peserta yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Selama berbincang, seluruh peserta mengenakan alat pemindai otak functional near-infrared spectroscopy (fNIRS), teknologi yang mampu mengukur perubahan aliran darah di permukaan otak secara bersamaan.

Para peserta kemudian dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta membahas topik ringan, seperti cuaca, acara televisi favorit, atau memilih antara liburan ke pantai atau pegunungan. Sementara itu, kelompok kedua diajak mendiskusikan pertanyaan yang lebih personal, seperti gambaran hari yang sempurna, pengalaman menangis di depan orang lain, hingga impian yang belum tercapai.

Setelah percakapan selesai, setiap peserta diminta menilai seberapa dekat atau terhubung mereka dengan lawan bicaranya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa percakapan yang lebih mendalam memang cenderung menciptakan rasa kedekatan yang lebih kuat dibanding obrolan ringan. Namun, para peneliti menemukan bahwa faktor yang paling berpengaruh justru adalah sinkronisasi aktivitas pada default mode network (DMN), jaringan otak yang berperan dalam memahami orang lain, memaknai pengalaman sosial, serta menafsirkan dunia batin seseorang.

Sinkronisasi paling kuat ditemukan pada area right temporoparietal junction, bagian otak yang berperan penting dalam kemampuan melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Semakin selaras aktivitas di area ini, semakin besar peluang kedua orang merasakan ikatan emosional setelah berbincang.

Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa topik percakapan bukanlah penentu utama. Sekitar 28 persen pasangan peserta menunjukkan hasil yang berbeda dari dugaan. Ada peserta yang hanya membahas hal-hal ringan tetapi tetap merasa sangat dekat, sementara ada pula yang mendiskusikan topik mendalam namun tidak merasakan keterhubungan.

Menurut para peneliti, pertanyaan yang bersifat personal memang dapat membuka peluang munculnya kedekatan. Namun, yang benar-benar menentukan adalah kemampuan kedua orang untuk saling mengikuti alur berpikir, memahami perspektif masing-masing, serta membangun pemahaman bersama selama percakapan berlangsung.

Dengan kata lain, percakapan yang terasa "klik" bukan hanya soal apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana dua orang benar-benar saling memahami satu sama lain.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026