Logo Header Antaranews Riau

PBB soroti krisis bahan bakar Kuba, khawatir ganggu layanan kemanusiaan

Rabu, 5 Agustus 2026 15:43 WIB
Image Print
Warga menghabiskan waktu di luar ruangan dengan minimnya sumber cahaya di tengah pemadaman listrik parah yang terus melanda Havana, Kuba, pada 2 Juli 2026. ANTARA/Angelo Mastrascusa - Anadolu Agency /pri.

PBB (ANTARA) - PBB menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap krisis bahan bakar yang semakin memburuk di Kuba. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu berbagai layanan penting, termasuk kebutuhan kemanusiaan bagi masyarakat.

Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir situasi pasokan bahan bakar di Kuba mengalami tekanan yang cukup serius.

"Dalam beberapa hari terakhir terdapat masalah nyata terkait krisis bahan bakar. Kami menyampaikan keprihatinan atas situasi tersebut. Beberapa bulan sebelumnya memang sempat ada kemajuan dalam memperoleh pasokan bahan bakar dalam jumlah terbatas, dan kami terus berupaya membantu," ujar Haq pada Selasa (4/8).

Menurut Haq, PBB juga telah berkomunikasi dengan sejumlah negara untuk membantu memastikan tersedianya pasokan bahan bakar yang dibutuhkan Kuba, terutama untuk mendukung operasi kemanusiaan.

Di sisi lain, pada akhir Januari lalu Amerika Serikat mengizinkan bea masuk impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba. Namun, Washington juga menetapkan status darurat dengan alasan adanya dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Pemerintah Kuba menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari embargo energi yang diterapkan AS untuk menekan perekonomian negara itu. Havana menuding langkah tersebut semakin memperparah krisis bahan bakar dan memperburuk kondisi kehidupan masyarakat.

Dampak krisis energi kini dirasakan di berbagai sektor vital, mulai dari pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, hingga pendidikan. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional karena berpotensi memperbesar tantangan kemanusiaan yang dihadapi Kuba.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026