Logo Header Antaranews Riau

Menanamkan Budaya Anti-Perundungan Sejak Bangku Sekolah Dasar

Senin, 20 Juli 2026 08:24 WIB
Image Print
Ilustrasi anti-perundungan. (ANTARA/Nadilla)

Pekanbaru (ANTARA) - Oleh: Salsabila Ardiani

Kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berbagai pemberitaan menunjukkan bahwa tindakan mengejek, mengucilkan, hingga kekerasan fisik maupun verbal masih kerap terjadi di sekolah. Ironisnya, perilaku tersebut sering dianggap sebagai candaan atau bagian dari dinamika pergaulan anak-anak. Padahal, perundungan meninggalkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan yang tampak di permukaan.

Korban perundungan dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan kecemasan, trauma, hingga kehilangan motivasi belajar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan psikologis, sosial, bahkan prestasi akademik seorang anak. Di sisi lain, pelaku yang tidak mendapatkan pembinaan juga berpotensi membawa pola perilaku agresif hingga dewasa.

Karena itu, upaya pencegahan tidak dapat hanya dilakukan ketika kasus sudah terjadi. Pendidikan mengenai nilai-nilai saling menghargai, empati, dan kepedulian perlu ditanamkan sejak usia dini. Sekolah dasar menjadi salah satu ruang paling strategis untuk membentuk karakter tersebut karena pada fase inilah anak mulai membangun cara berinteraksi, memahami perbedaan, dan belajar hidup berdampingan dengan orang lain.

Atas dasar itulah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau melaksanakan sosialisasi anti-perundungan di SD Negeri 02 Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak. Kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan materi mengenai definisi bullying, tetapi juga mengajak siswa memahami bagaimana sebuah ejekan, tindakan mengucilkan teman, atau kekerasan verbal dapat memberikan luka yang tidak terlihat.

Pendekatan yang digunakan dibuat menyenangkan agar mudah dipahami anak-anak. Edukasi diawali melalui lagu bertema anti-perundungan yang mengandung pesan tentang persahabatan dan sikap saling menghormati. Cara ini terbukti mampu membangun suasana belajar yang lebih interaktif sekaligus membantu siswa menyerap nilai-nilai positif tanpa merasa digurui.

Selanjutnya, para mahasiswa menjelaskan berbagai bentuk perundungan yang sering dijumpai, mulai dari perundungan fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying yang semakin relevan di era digital. Penyampaian dilakukan menggunakan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa mampu mengenali perilaku yang termasuk tindakan perundungan.

Bagian yang tidak kalah penting adalah sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam forum tersebut, siswa didorong untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan langkah yang tepat ketika melihat atau mengalami tindakan perundungan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya memiliki kepedulian terhadap teman sebayanya, namun sering kali belum memiliki keberanian atau pengetahuan untuk bertindak secara tepat.

Pencegahan perundungan sejatinya bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang sehat dengan anak, sementara guru menjadi teladan dalam menciptakan budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan. Di sisi lain, mahasiswa melalui program KKN juga dapat mengambil bagian sebagai agen perubahan yang menghadirkan edukasi sekaligus menjadi jembatan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Program pengabdian seperti ini memperlihatkan bahwa KKN tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik desa atau pemberdayaan ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki kontribusi dalam membangun karakter generasi muda. Nilai-nilai toleransi, empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama merupakan modal sosial yang harus ditanamkan sejak dini apabila Indonesia ingin mencetak generasi yang berdaya saing sekaligus berkarakter.

Mewujudkan sekolah yang bebas dari perundungan memang tidak dapat dilakukan melalui satu kegiatan sosialisasi semata. Dibutuhkan komitmen bersama, keberlanjutan program, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Namun, setiap langkah kecil memiliki arti penting. Ketika seorang anak memahami bahwa mengejek teman bukanlah candaan, ketika seorang siswa berani membela temannya yang menjadi korban, atau ketika sebuah sekolah mulai membangun budaya saling menghargai, maka pada saat itulah fondasi lingkungan belajar yang aman mulai terbentuk.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan juga merupakan proses membentuk manusia yang memiliki empati, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan secara harmonis. Menanamkan budaya anti-perundungan sejak bangku sekolah dasar merupakan investasi karakter yang hasilnya akan dirasakan tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga oleh masyarakat dan bangsa di masa depan.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026