
Pakistan serukan AS-Iran hentikan saling serang, dorong kembali ke meja perundingan

Istanbul (ANTARA) - Pakistan menyerukan Amerika Serikat dan Iran segera menghentikan aksi saling serang yang telah berlangsung selama sepekan terakhir serta kembali menempuh jalur diplomasi melalui perundingan teknis.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi memperingatkan bahwa eskalasi konflik antara Washington dan Teheran berisiko memperburuk ketegangan serta mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan.
"Seiring berlanjutnya permusuhan selama sepekan terakhir, Pakistan kembali menyerukan kepada semua pihak agar menahan diri semaksimal mungkin dan tidak melakukan tindakan yang dapat semakin merusak perdamaian dan stabilitas," ujar Andrabi kepada wartawan di Islamabad, Kamis.
Menurut Andrabi, dialog dan diplomasi merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan berbagai konflik pada akhirnya hanya dapat diselesaikan melalui meja perundingan.
"Pada akhirnya, semua konflik dan perselisihan diselesaikan melalui dialog di meja perundingan," katanya.
Pakistan, lanjutnya, terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait guna membantu menurunkan tensi konflik dan membuka kembali ruang negosiasi antara kedua negara.
Seruan tersebut disampaikan ketika Amerika Serikat dan Iran masih terlibat aksi saling serang di tengah meningkatnya ketegangan terkait situasi di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Sebelumnya, kedua negara telah menyepakati nota kesepahaman di Islamabad yang memberikan waktu 60 hari bagi Washington dan Teheran untuk merundingkan kesepakatan damai permanen. Pakistan menilai kesepakatan tersebut masih menjadi kerangka penting untuk membangun perdamaian, rasa saling menghormati, serta kemakmuran bersama.
Meski mengakui pelaksanaan nota kesepahaman menghadapi berbagai tantangan, Andrabi memastikan Pakistan akan terus mendorong penghentian kekerasan dan kembalinya pembahasan teknis sesuai kesepakatan tersebut serta pernyataan bersama Pakistan-Qatar pada 22 Juni.
Sebelumnya, tim perunding Amerika Serikat dan Iran sempat menggelar pembicaraan di Swiss setelah kesepakatan sementara tercapai, dengan Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator.
"Kami berharap semua pihak tetap berkomitmen pada jalur dialog dan diplomasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih tersisa," kata Andrabi.
Selain konflik bilateral AS-Iran, Pakistan juga menyoroti dampak ketegangan di Selat Hormuz terhadap negara-negara lain, terutama di kawasan Selatan Global. Islamabad menilai gangguan di jalur pelayaran tersebut dapat memengaruhi pasokan energi, perdagangan internasional, hingga ketahanan pangan dunia.
Pakistan berharap kondisi di Selat Hormuz segera stabil dan kebebasan serta keselamatan pelayaran internasional tetap terjamin.
Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz masih berada dalam kendalinya, sementara Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

