
Presiden Iran serukan pihak tahan diri, peringatkan risiko eskalasi konflik

Teheran (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dari langkah-langkah yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan, di tengah memanasnya konflik dan aksi saling balas serangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Pezeshkian menegaskan bahwa upaya diplomatik harus menjadi prioritas guna memperkuat gencatan senjata dan mencegah krisis meluas. Menurutnya, situasi di Timur Tengah semakin rentan akibat adanya upaya yang disebut dilakukan Amerika Serikat dan Israel untuk mengganggu proses stabilisasi kawasan.
"Adalah wajar untuk mengharapkan bahwa pihak-pihak lain juga mematuhi komitmen mereka dan menahan diri dari posisi atau tindakan yang akan merusak kepercayaan dan menyulitkan proses diplomatik," ujar Pezeshkian saat melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebagaimana dikutip dari pernyataan Kantor Presiden Iran.
Ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat pada Rabu malam melancarkan serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Teheran juga menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian permusuhan.
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sudah tidak lagi berlaku, memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan dan prospek penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

