
Belajar dari Argentina: Saat peluang datang, jangan disia-siakan

Jakarta (ANTARA) - Jarum pertandingan menunjukkan menit ke-70 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Selasa waktu setempat. Para pemain Mesir dan Argentina berjalan ke tepi lapangan untuk jeda turun minum babak kedua laga 16 besar Piala Dunia 2026.
Tiga menit sebelumnya, stadion bergemuruh. Mostafa Zico menyambar umpan tarik Haissem Hassan dengan sepakan akurat yang merobek gawang Argentina. Skor berubah menjadi 2-0 untuk Mesir, dan sang juara bertahan berada di ambang kehancuran.
Saat itu, hanya tersisa sekitar 20 menit—ditambah waktu tambahan—bagi Argentina untuk menyelamatkan nasib. Jika gagal bangkit, La Albiceleste akan menyusul Uruguay, Jerman, Belanda, Brasil, dan Portugal yang lebih dulu tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Namun, Argentina memiliki dua sosok bernama Lionel yang sudah berulang kali membuktikan bahwa harapan tak pernah benar-benar padam.
Lionel Messi tetaplah Lionel Messi. Sementara Lionel Scaloni menjelma menjadi arsitek yang berhasil membangun generasi emas baru sepak bola Argentina, sehingga tim tak lagi semata bergantung pada keajaiban sang kapten.
Sejak dipercaya menggantikan Jorge Sampaoli pada Oktober 2018, Scaloni perlahan mengubah wajah tim nasional Argentina. Turnamen pertamanya memang belum menghasilkan gelar, tetapi kemenangan atas Chile dalam perebutan tempat ketiga Copa America 2019 menjadi sinyal awal bahwa fondasi baru tengah dibangun.
Dari situlah petualangan "Duo Lionel" dimulai.
Mereka mengakhiri penantian panjang Argentina dengan menjuarai Copa America 2021 setelah menaklukkan Brasil di Stadion Maracana, memutus dahaga gelar yang telah berlangsung sejak 1993.
Setahun kemudian, Argentina tampil superior saat mengalahkan Italia 3-0 pada Finalissima 2022. Puncaknya terjadi di Qatar ketika Messi akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia 2022, sebelum Argentina kembali membuktikan dominasinya dengan mempertahankan gelar Copa America pada 2024.
Empat trofi bergengsi—jika Finalissima ikut dihitung—menjadi bukti keberhasilan duet Messi dan Scaloni membangun era kejayaan baru sepak bola Argentina.
Rekam jejak itulah yang tampaknya menjadi sumber keyakinan Argentina ketika kembali memasuki lapangan selepas jeda turun minum.
Entah apa yang disampaikan Scaloni di ruang ganti. Mungkin pesannya sederhana, tetapi menggetarkan. Mungkin pula senada dengan kalimat yang pernah diucapkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir kepada tim nasional Indonesia dua tahun lalu: "Kalian mau menyerah atau fight back?"
Apa pun isi pidatonya, jawaban Argentina tersaji dengan sangat jelas di atas lapangan.
Enam menit setelah pertandingan dilanjutkan, Cristian Romero memanfaatkan umpan silang Messi untuk memperkecil ketertinggalan lewat sundulan tajam. Skor menjadi 2-1 dan harapan Argentina kembali menyala.
Empat menit kemudian, giliran Messi menunjukkan kelasnya. Sepakan kaki kiri sang kapten menaklukkan Mostafa Shobeir sekaligus menghapus keunggulan dua gol Mesir. Skor berubah menjadi 2-2.
Momentum pun sepenuhnya berpindah ke kubu Argentina. Sebaliknya, Mesir mulai kehilangan ketenangan. Keunggulan yang sebelumnya terasa aman lenyap hanya dalam hitungan menit.
Tekanan Argentina terus mengalir hingga memasuki masa injury time.
Pada menit kedua waktu tambahan, Lautaro Martinez mengirimkan umpan silang melambung yang disambut sundulan Enzo Fernandez ke tiang jauh. Bola bersarang di gawang Mesir.
Gol itu melengkapi salah satu kebangkitan paling dramatis di Piala Dunia 2026.
Dari tertinggal dua gol, Argentina membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2. Sebuah pengingat bahwa pertandingan belum berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan.
Bagi Argentina, momentum sekecil apa pun adalah peluang yang harus dimanfaatkan. Ketika kesempatan datang, mereka tidak menyia-nyiakannya.
Dan itulah yang membedakan tim besar dari tim biasa: kemampuan mengubah keadaan paling sulit menjadi kemenangan yang dikenang.
Pewarta : Gilang Galiarta
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

