Logo Header Antaranews Riau

Derita Iran, FIFA yang Tak Berdaya, dan Kontroversi Piala Dunia 2026

Rabu, 17 Juni 2026 17:59 WIB
Image Print
Pesepak bola Iran, Ramin Rezaeian (kiri), merayakan gol yang dicetaknya ke dalam gawang Selandia Baru pada pertandingan Grup G Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, Senin (15/062026) waktu setempat. Pertandingan berakhir imbang dengan skor akhir 2-2. ANTARA FOTO/XINHUA/Mao Siqian/kye

Jakarta (ANTARA) - Di tengah ambisi besar FIFA untuk menghadirkan Piala Dunia 2026 sebagai turnamen paling inklusif dan menyatukan dunia, timnas Iran justru menghadapi rangkaian situasi yang memunculkan tanda tanya besar soal keadilan penyelenggaraan.

Pelatih timnas Iran, Amir Ghalenoei, meluapkan kekecewaannya setelah timnya dipaksa meninggalkan wilayah Amerika Serikat segera usai laga kontra Selandia Baru yang berakhir imbang 2-2. Ia menilai kondisi tersebut tidak manusiawi bagi pemulihan fisik para pemain.

Menurut Ghalenoei, timnya hanya tiba di AS pada Minggu pukul 16.00 waktu setempat, lalu harus langsung bertanding keesokan harinya pukul 18.00. Namun yang paling mengejutkan, sesaat setelah pertandingan berakhir, pihak berwenang disebut meminta skuad Iran segera meninggalkan negara tersebut pada malam itu juga.

“Tim ini diperlakukan tidak adil,” demikian kesan keras yang disampaikan Ghalenoei, yang menilai situasi ini merugikan persiapan tim secara serius.

Kapten Iran, Mehdi Taremi, turut menyuarakan kegelisahan serupa. Dengan nada tenang, ia menyoroti kondisi yang menurutnya tidak ideal dalam sebuah turnamen sebesar Piala Dunia.

“Ini tidak baik untuk sepak bola karena di Piala Dunia, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pertandingan berikutnya,” ujar Taremi seperti dikutip BBC.

Taremi juga menyinggung persoalan administratif, termasuk tidak hadirnya staf pendukung tim akibat penolakan visa dari otoritas setempat, yang membuat persiapan Iran semakin terbatas.

Di luar lapangan, Iran juga dihadapkan pada persoalan logistik yang tidak ringan. Perjalanan panjang antar-kota pertandingan—dari Tijuana ke Seattle, Arlington, hingga East Rutherford—mencapai ribuan kilometer, dengan jarak terjauh setara perjalanan lintas pulau besar di Indonesia.

Jika lolos ke fase gugur, tantangan itu akan semakin berat. Jadwal dan lokasi pertandingan yang tersebar luas membuat pemain harus menghadapi mobilitas ekstrem yang berpotensi menguras fisik dan mental.

Iran juga mengeluhkan pengurangan kuota tiket Piala Dunia yang terjadi hanya sehari sebelum laga pembuka. Kondisi ini kemudian mendorong mereka meminta FIFA menegakkan prinsip netralitas dan keadilan bagi semua peserta.

Namun, menurut laporan tersebut, FIFA disebut berada dalam posisi sulit. Organisasi sepak bola dunia itu tidak dapat banyak berbuat dengan alasan tidak ingin mencampuri kewenangan pemerintah Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah.

Rangkaian situasi ini menimbulkan kontras tajam dengan semangat besar yang selalu digaungkan FIFA: menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai ajang paling inklusif, terbuka, dan menyatukan umat manusia—sebuah cita-cita yang kini diuji oleh realitas di lapangan.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026