Logo Header Antaranews Riau

Konsumsi Daging Olahan Berlebih Berpotensi Meningkatkan Risiko Kanker Mulut

Kamis, 11 Juni 2026 16:23 WIB
Image Print
Ilustrasi - Aneka produk olahan daging. (Freepik.)

Jakarta (ANTARA) - Selain merokok, mengunyah tembakau, mengonsumsi alkohol, dan infeksi human papillomavirus (HPV), mengonsumsi makanan yang dapat memicu peradangan menurut para ahli juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut.

Sebagaimana dikutip dalam siaran Eatingwell pada Senin (8/6), Alessandro Villa, DDS, Ph.D., MPH selaku kepala pengobatan mulut, onkologi mulut, dan kedokteran gigi Herbert Wertheim Cancer Institute di Amerika Serikat mengatakan bahwa makanan olahan telah lama dikaitkan dengan risiko kanker rongga mulut.

"Daging olahan, termasuk bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging deli, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring," katanya.

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, "yang artinya cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia" menurut Villa.

Baca juga: Nikmati Daging Kurban dengan Aman, Kunci Utamanya Jangan Berlebihan

Dia mengatakan bahwa daging olahan sering mengandung bahan pengawet kimia nitrat dan nitrit, yang dapat membentuk senyawa N-nitroso karsinogenik.

Hasil penelitian secara konsisten menghubungkan konsumsi nitrat dan nitrit dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara dan prostat.

Mengonsumsi daging yang dipanggang, diasap, dan dibakar dalam suhu tinggi juga bisa menimbulkan masalah menurut Kelly F. Moyer, MD, dokter ahli THT di University of Maryland Medical Center.

"Karena memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel Anda," kata Moyer.

Selain itu, ia mengatakan bahwa mengonsumsi daging olahan dapat menyebabkan peradangan kronis. Peradangan tingkat rendah yang konstan terjadi di mulut seiring waktu bisa mengurangi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut mungkin berperan dalam perkembangan kanker mulut dengan memicu peradangan kronis dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel abnormal untuk tumbuh.

Villa mengatakan bahwa zat besi heme dalam daging merah olahan juga dapat berkontribusi pada karsinogenesis.

Para ahli menyampaikan bahwa risiko kanker mulut bisa diminimalkan dengan menerapkan pola hidup sehat, termasuk menghindari konsumsi produk tembakau dan alkohol serta memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya antioksidan.

Baca juga: Daging merah dan minuman bersoda ternyata dapat bertahan di usus berhari-hari

Selain itu, penting pula menjaga kebersihan mulut dengan baik serta memeriksakan kesehatan mulut dan gigi secara berkala.

"Menyikat gigi dan menggunakan benang gigi setiap hari, dikombinasikan dengan pembersihan gigi secara teratur, mengurangi peradangan dan mengendalikan bakteri berbahaya," kata Moyer.

Ia juga merekomendasikan vaksinasi HPV bagi individu berusia hingga 26 tahun, karena HPV sekarang menjadi salah satu penyebab utama kanker tenggorokan dan mulut, terutama pada orang dewasa muda.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026