Logo Header Antaranews Riau

Sumber Medis: Situasi di Gaza Kian Genting akibat Kelangkaan Pasokan Medis

Senin, 25 Mei 2026 15:31 WIB
Image Print
Sejumlah warga berada dalam pelarian setelah tentara Israel meminta mereka untuk meninggalkan bangunan sekolah tempat terakhir mereka mencari perlindungan, Jabalia, Jalur Gaza utara, Palestina, Sabtu (19/10/2024). (ANTARA/Xinhua/Mahmoud Zaki/aa.)

Gaza (ANTARA) - Sejumlah sumber medis, Ahad (24/5) memperingatkan kondisi genting persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis, yang memperparah krisis perawatan kesehatan dan mengancam nyawa ribuan pasien di wilayah Jalur Gaza, Palestina.

Sumber-sumber itu mengatakan 250 pasien gagal ginjal berisiko kehilangan akses dialisis akibat kekurangan larutan Bibag. Sementara itu, perawatan untuk delapan anak yang sakit juga kemungkinan terhenti lantaran minimnya filter medis yang diperlukan.

Baca juga: WHO Ungkap Krisis Kesehatan Dahsyat di Palestina

Mereka menambahkan bahwa kekosongan suntikan insulin memperburuk kondisi kesehatan sekitar 11.000 pasien diabetes. Selain itu, sebanyak 110 pasien hemofilia menderita parah akibat kurangnya perawatan VACTOR di Jalur Gaza.

Akhir pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai sebuah tragedi mengerikan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan Kamis (21/5), Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy mengatakan sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan 182.000 lainnya terluka.

"Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan," kata Balkhy.

Dia mengungkapkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan juga masih terbatas.

Saat ini, lanjutnya, tidak ada rumah sakit yang berfungsi secara penuh di Gaza dan tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi di Gaza utara. Selain itu, lebih dari setengah stok obat-obatan penting habis, sementara ribuan pasien masih perlu evakuasi medis mendesak.

Lebih lanjut, penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental juga sangat besar, sementara risiko bagi ibu dan bayi baru lahir meningkat tajam.

Terkait wilayah Tepi Barat, WHO memastikan situasi terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.

Krisis finansial

Krisis finansial yang dihadapi otoritas Palestina juga sangat membatasi layanan kesehatan, di mana rumah sakit umum hanya menyediakan layanan darurat.

WHO bersama para mitra terus bekerja dalam kondisi sangat sulit. WHO juga telah mengajukan anggaran senilai 648 juta dolar AS (sekitar Rp11,4 triliun) untuk mendanai kesehatan di 2025, tetapi sejauh ini baru menerima 75 persen dari jumlah tersebut.

Baca juga: Bantuan Menipis, Bayang Kelaparan Kembali Melingkupi Gaza

Terlepas dari tantangan yang dihadapi itu, WHO telah memberikan dukungan dengan mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gaza serta memfasilitasi pengiriman bahan bakar agar sistem kesehatan di sana tetap berfungsi.

Selain itu, WHO terus juga memperluas perawatan dan pengobatan darurat bagi para korban luka. Balkhy menegaskan pernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan.

Dia mendesak adanya upaya perlindungan bagi layanan kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat pasokan medis penting dan tim medis darurat.

Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.

Sumber: WAFA-OANA



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026