Logo Header Antaranews Riau

Cegah stunting dari dapur sendiri: ASI eksklusif, MP-ASI, dan dadih jadi prioritas

Kamis, 16 April 2026 19:06 WIB
Image Print
Ilustrasi - Seorang bayi sedang mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MPASI). ANTARA/Shutterstock/LightField Studios/am.

Pekanbaru (ANTARA) - Stunting masih menjadi ironi di tengah berbagai upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Memang ada kabar baik: prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen pada 2024, dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya.

Namun angka ini tetap berarti sekitar 4,4 juta balita mengalami gangguan pertumbuhan, jumlah yang tidak bisa dianggap kecil. Artinya, hampir satu dari lima anak Indonesia tumbuh tidak optimal.

Pertanyaannya, apakah kita terlalu sibuk mencari solusi yang jauh, padahal jawabannya justru ada di sekitar kita?

Pencegahan stunting sejatinya tidak selalu membutuhkan pendekatan rumit atau mahal. Kunci utamanya justru terletak pada praktik sederhana yang kerap diabaikan: pemberian ASI eksklusif, MP-ASI yang tepat, serta pemanfaatan pangan lokal bergizi seperti dadih.

ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan fondasi yang tidak tergantikan. Ia bukan sekadar sumber nutrisi, tetapi juga perlindungan alami terhadap infeksi.

Dalam banyak kasus, kegagalan pemberian ASI eksklusif membuka pintu bagi berbagai penyakit yang pada akhirnya mengganggu penyerapan gizi anak.

Di sinilah lingkaran stunting kerap bermula, bukan hanya karena kurang makan, tetapi karena tubuh tidak mampu memanfaatkan asupan dengan baik.

Persoalan tidak berhenti di sana. Tantangan berikutnya muncul saat anak memasuki usia enam bulan, ketika ASI tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan gizi.

Pada fase ini, MP-ASI memegang peran krusial. Sayangnya, praktik pemberian MP-ASI di masyarakat masih jauh dari ideal. Makanan yang diberikan kerap rendah protein, kurang variasi, dan minim kualitas gizi.

Kita sering terjebak pada anggapan bahwa yang penting anak makan, tanpa memperhatikan apa yang dimakan. Padahal, kualitas MP-ASI sangat menentukan arah pertumbuhan anak. Kekurangan protein hewani, misalnya, menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di Indonesia.

Di tengah persoalan tersebut, kita sebenarnya memiliki potensi solusi dari kearifan lokal yang sering terlupakan: dadih. Makanan tradisional khas Sumatera Barat ini bukan sekadar produk budaya, tetapi juga pangan fungsional yang kaya manfaat.

Dadih merupakan hasil fermentasi susu kerbau yang mengandung bakteri asam laktat. Bakteri ini berperan sebagai probiotik, yakni mikroorganisme baik yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Usus yang sehat memungkinkan penyerapan nutrisi berjalan optimal, sehingga asupan makanan benar-benar dimanfaatkan oleh tubuh.

Lebih jauh, probiotik dalam dadih juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Hal ini penting, karena stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan, tetapi juga gangguan kesehatan, terutama pada saluran cerna.

Sayangnya, di tengah arus modernisasi, pangan lokal seperti dadih justru mulai tersisih. Masyarakat cenderung beralih pada produk instan yang belum tentu lebih sehat. Padahal, dari aspek aksesibilitas, keberterimaan budaya, dan nilai gizi, dadih memiliki keunggulan yang sulit ditandingi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Kita kerap mengabaikan potensi lokal, sementara di saat yang sama mencari solusi dari luar yang belum tentu sesuai dengan konteks sosial budaya.

Selain itu, intervensi gizi seharusnya tidak dimulai saat anak lahir, melainkan sejak masa kehamilan. Ibu dengan status gizi kurang berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, yang menjadi salah satu faktor risiko utama stunting. Dalam konteks ini, konsumsi pangan lokal bergizi seperti dadih juga berpotensi mendukung peningkatan status gizi ibu.

Pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga 14,2 persen pada 2029. Target ini ambisius dan tidak akan tercapai tanpa perubahan perilaku di tingkat rumah tangga.

Karena itu, sudah saatnya pendekatan pencegahan stunting dikembalikan pada hal-hal mendasar. Edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif perlu diperkuat, tidak hanya kepada ibu, tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja.

Praktik pemberian MP-ASI harus diperbaiki dengan menekankan kualitas, bukan sekadar kuantitas. Dan yang tak kalah penting, pemanfaatan pangan lokal seperti dadih perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari solusi.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Dari tempe hingga dadih, kita memiliki kekayaan pangan lokal yang berpotensi menjadi solusi gizi. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melihat potensi tersebut sebagai kekuatan, bukan sekadar warisan budaya.

Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi menyangkut masa depan bangsa. Anak yang tumbuh tidak optimal hari ini berisiko kehilangan daya saing di masa depan. Jika ingin memutus rantai ini, langkahnya harus dimulai sekarang, dari rumah, dari dapur, dan dari pilihan makanan sehari-hari.

Solusinya mungkin sederhana, tetapi berdampak besar: pastikan ASI eksklusif terpenuhi, berikan MP-ASI berkualitas, dan jangan lupakan kekuatan pangan lokal seperti dadih. Karena sering kali, jawaban atas masalah besar sudah ada di depan mata.

Penulis :

Kharimah, S.Gz dan Prof. Dr. Helmizar, SKM, M.Biomed

Program Studi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026