
Di Tengah Sawit dan Karet, EMP Tonga Menyemai Harapan Baru Lewat Padi di Desa Sayur Matua

Pekanbaru (ANTARA) - Matahari sudah cukup terik ketika rombongan tiba di Desa Sayur Matua, Kecamatan Aek Nabara Barumun, setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan dari Sibuhuan, ibukota Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara. Di balik teriknya siang itu, sebuah perubahan perlahan sedang tumbuh di desa yang dulu sepenuhnya bergantung pada cuaca.
Sejumlah wartawan dari Sibuhuan datang bersama tim PT EMP Tonga. Mereka disambut oleh Kepala Desa Sayur Matua, H.A Lawali SH MH, beserta perangkat desa di lokasi, Selasa (7/5/2026).
Hamparan padi menguning terbuka luas di hadapan. Di atasnya, beberapa ekor burung pipit hinggap lalu terbang rendah -- seolah menegaskan bahwa di tengah kebun sawit dan karet, masih ada kehidupan yang memilih kembali ke padi.
Tanpa banyak jeda, rombongan langsung diajak menyusuri pematang sawah. Langkah kaki mengikuti jalur sempit di antara tanaman yang siap panen.
Bulir padi tampak penuh dan berat. Warna kuningnya menjadi penanda bahwa masa panen tinggal menghitung hari.
“Sekitar 10 hari lagi ini sudah bisa dipanen,” ujar Lawali.
Tidak jauh dari situ, petakan lain berwarna hijau muda berdiri rapi. Padi yang baru berumur satu bulan itu menunjukkan bahwa siklus kehidupan di lahan ini terus berlanjut.
Di pinggir pematang, air beriak pelan. Ratusan ikan mas dan nila bergerak cepat, berebut pakan yang ditebar langsung oleh kepala desa.
Aerator bekerja tanpa henti, menjaga kadar oksigen di dalam air. Sementara sprinkler menyemprotkan air secara teratur, memastikan ekosistem tetap seimbang agar ikan dapat berkembang dengan baik.
“Karena padi mau dipanen, ikan-ikan sudah kita geser ke kolam di sebelahnya,” jelasnya.
“Sebelumnya mereka hidup di sela-sela tanaman padi,” lanjutnya.
Tadah Hujan
Apa yang terlihat hari ini bukanlah kondisi lama desa ini. Lahan tersebut dulunya hanyalah sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada kemurahan alam.
Ketika hasil tidak menentu, masyarakat perlahan beralih ke sawit dan karet. Padi, yang dulu menjadi penopang utama, mulai ditinggalkan.
“Dulu kami ragu menanam padi lagi, karena hasilnya tidak pasti,” kata Muslih Siregar, salah seorang warga Desa Sayur Matua.
“Sekarang mulai percaya lagi, karena sudah ada sistem yang membantu dan hasilnya mulai terlihat,” lanjutnya.
Temui Rektor USU
Perubahan di desa ini tidak terjadi begitu saja. Lawali mengingat kembali awal langkahnya setelah dilantik sebagai kepala desa pada 2020.
Ia memberanikan diri pergi ke Medan untuk menemui Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), sosok yang sama sekali belum pernah ia kenal sebelumnya.
“Waktu itu saya datang tanpa janji. Tapi ketika staf menyampaikan bahwa ada kepala desa yang ingin bertemu, Pak Rektor langsung keluar dari rapat dan menemui saya,” kenangnya.
Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan gagasannya menjadikan Desa Sayur Matua sebagai desa wisata. Sebuah ide yang saat itu masih terdengar jauh dari kenyataan.
Respon yang ia terima justru di luar dugaan. Pihak USU menyambutnya dengan antusias dan menetapkan Desa Sayur Matua sebagai salah satu desa binaan.
Sejak saat itu, sejumlah dosen dan mahasiswa mulai turun melakukan penelitian dan kajian. Langkah demi langkah, konsep Desa Wisata Pertanian Berteknologi mulai dirancang dan diwujudkan.
Kini, di atas lahan sekitar tiga hektar, gagasan itu perlahan menjadi nyata. Desa Wisata Pertanian Berteknologi atau Dewi Tani tumbuh sebagai ruang baru untuk menghidupkan kembali pertanian dengan pendekatan yang lebih cerdas.
Di titik inilah peran PT EMP Tonga mulai terasa. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi mendorong perubahan yang terukur dan berkelanjutan.
Dalam penjelasannya di lapangan, CSR and Communication PT EMP Tonga, Hafied Awal, menyampaikan bahwa program yang dijalankan dirancang sebagai satu sistem utuh. Pertanian, perikanan, energi, hingga penguatan kapasitas masyarakat dikembangkan secara terintegrasi.
Dua unit pompa air disediakan untuk memastikan suplai air tetap stabil. Aerator, komposter, dan sprinkler dibangun bersama PUI USU untuk mendukung keberlangsungan ekosistem.
Kolam budidaya ikan diisi dengan 10.000 bibit lele serta 3.500 bibit ikan nila dan mas. Di sisi lain, benih padi, hortikultura, dan 150 bibit pohon produktif ditanam untuk memperkaya kawasan.
“Walaupun produksi kami tidak besar, kami ingin tetap memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Hafied.
“Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi desa,” tambahnya.
Kepala desa juga menyoroti peran penting infrastruktur air yang kini tersedia. Sumur bor yang dibangun oleh PT EMP Tonga memiliki debit air yang cukup besar dan stabil.
Air tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Saat musim kemarau tiba dan sumur warga mulai mengering, sumber air ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Perubahan yang dibangun tidak hanya terlihat pada lahan. Ia juga tumbuh pada cara pandang masyarakat.
Kelompok Sadar Wisata mendapatkan pelatihan desain grafis dan bisnis sablon. Warga juga dilatih membuat pangan olahan khas Tapanuli Tengah.
Di sini, desa tidak hanya menjadi tempat produksi. Ia mulai bergerak menjadi ruang belajar dan ruang tumbuh bagi warganya sendiri.
Ramah Lingkungan
Perjalanan berlanjut ke kebun tanaman produktif. Berbagai jenis tanaman ditata sebagai sarana edukasi bagi siswa dan pelajar yang nantinya akan datang. Di sudut lain, komposter bekerja mengolah limbah menjadi pupuk. Siklus ini menjaga agar tidak ada yang terbuang sia-sia.
Kawasan ini juga dilengkapi dengan energi ramah lingkungan. Solar cell dan kincir angin menghasilkan daya hingga sekitar 3.000 KWH untuk mendukung operasional.
Setelah berkeliling, rombongan beristirahat di pondok panggung berukuran sekitar 4x6 meter di tengah kawasan. Diskusi berlangsung santai, membahas apa yang sudah berjalan dan apa yang akan dikembangkan.
Wartawan mengajukan berbagai pertanyaan. Percakapan berlangsung terbuka, memperlihatkan keterlibatan semua pihak dalam membangun kawasan ini.
Menjelang siang, makan bersama disiapkan oleh ibu-ibu PKK desa. Hidangan sederhana tersaji dengan rasa yang khas dan hangat.
Holat menjadi menu utama. Ikan mas panggang dengan kuah kaldu rempah menghadirkan cita rasa khas Padang Lawas yang kuat dan membekas.
Masih Gratis
Di sekitar kawasan, warung kecil mulai melayani pengunjung. Aktivitas ekonomi tumbuh perlahan, mengikuti perkembangan desa wisata ini.
Untuk saat ini, pengunjung masih dapat masuk tanpa biaya. Ke depan, karcis akan diberlakukan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan.
Melalui BUMDes, berbagai produk lokal seperti manisan balakka dan dodol mulai dikembangkan. Satu demi satu, mata rantai ekonomi desa mulai terbentuk.
Di tengah hamparan sawit dan karet yang terus meluas, Desa Sayur Matua memilih jalan yang berbeda. Bukan dengan meninggalkan masa lalu, tetapi dengan merawatnya -- lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih berani.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

