
Inflasi di Riau 0,32 persen pada Februari 2026, emas jadi penyumbang terbesar

Pekanbaru, Riau (ANTARA) - Badan Pusat Statistik mencatat inflasi di Provinsi Riau pada Februari 2026 mencapai 0,32 persen atau masih di bawah rata-rata nasional yang 0,68 persen.
"Riau di bawah angka nasional. Di Sumatera inflasi tertinggi terjadi di Bengkulu 0,66 persen dan terdalam di Kepulauan Bangka Belitung, yang mencatat deflasi 0,64 persen," kata Kepala BPS Riau Asep Riyadi di Pekanbaru, Riau, Senin.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, perawatan jasa pribadi dan lainnya mencatat inflasi tertinggi pada Februari ini sebesar 2,99 persen yang salah satunya adalah harga emas.
Kedua, kesehatan inflasi 1,09 persen, lalu perumahan air listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,26 persen. Sementara, pakaian dan alas kaki inflasi 0,13 persen serta makanan, minuman, dan tembakau yang masih rendah 0,04 persen.
"Komoditas penyebab inflasi bulanan terbesar adalah emas perhiasan. Kemudian, cabai merah, tomat, daging ayam ras, jengkol dan rokok kretek. Sedangkan, harga bawang merah, cabai rawit, bayam, telur ayam ras, buncis mengalami deflasi," ungkapnya.
Sementara itu, inflasi Riau secara tahunan atau year on year (yoy) pada Februari 2026 tercatat 5,3 persen atau di atas angka nasional inflasi 4,76 persen.
"Di Sumatera, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Aceh 6,94 persen dan terendah di Lampung 2,95 persen," ujarnya.
Inflasi yoy di Riau terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sembilan indeks kelompok pengeluaran. Pertama kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,60 persen; diikuti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen; dan kelompok pendidikan sebesar 5,05 persen.
Kemudian, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,90 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,37 persen; kelompok kesehatan sebesar 2,08 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,97 persen; kelompok transportasi sebesar 0,61 persen; dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

