
PLTA Kampar Tutup Lima Pintu Air

Kampar, Riau,(ANTARARIAU News) - Pihak PLTA Koto Panjang Kampar di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terpaksa menutup lima pintu air di waduk 'Koto Panjang' tersebut, karena elevasi air berkurang.
"Akibat hujan tidak turun selama empat hari ini, elevasi air waduk berkurang pada posisi 83,41 meter dari maksimal kemampuan waduk sebesar 85 meter, kata Manajer PLTA Koto Panjang Kampar, Syaminan Siregar, Rabu.
Karenanya, demikian Syaminan Siregar, pihaknya menutup lima pintu air sejak tanggal 1 Januari kemarin.
Saat hujan turun terus menerus beberapa waktu yang lalu, menurutnya, elevasi air melebihi ambang batas kemampuan waduk.
Dikatakannya, berdasarkan informasi yang diterima dari pihak berkompeten, puncak musim hujan bakal terjadi pada bulan Februari mendatang.
"Ini diperkirakan akan terjadi di daerah Pangkalan di Sumatra Barat yang akan mempengaruhi kepada kondisi waduk," ungkapnya.
Waspada Hujan
Terkait musim hujan yang bakal mencapai puncak pada Februari 2012, Syaminan Siregar mengingatkan warga agar waspada.
"Dari sekarang masyarakat diminta mengantisipasi atau melakukan 'waspada hujan'. terutama bagi petani keramba di sepanjang sungai," katanya.
Saat ini, lanjutnya, kondisi air di waduk PLTA tersebut sudah mulai normal. "Hanya saja dengan cuaca yang ekstrim saat ini, kami tetap meminta masyarakat waspada," ujarnya.
Dalam kaitan itu pula, pihak PLTA saat ini melakukan pemantauan setiap saat terhadap kondisi air.
"Karena bisa saja cerah di Kampar, namun di kawasan hulu di Sumatra Barat, hujan deras sekali, dan ini memberikan pengaruh pada waduk serta daerah aliran sungai (DAS) sekitarnya," ungkapnya.
Syaminan Siregar lalu mengimbau masyarakat mewaspadai kondisi potensi banjir terkait prediksi musim hujan hingga Februari.
"Walau kami mengurus hal lain, tetapi kami juga mengimbau masyarakat tetap mewaspadai kondisi potensi banjir saat ini," katanya didampingi SPV Operasi, Ramsi serta SPV Administrasi dan SDM sekaligus Humas PLTA Koto Panjang, Darmasyah.
Bantah Tudingan
Sebagaimana diketahui, sempat beredar informasi sebelumnya, banjir yang menerjang beberapa kecamatan di Kabupaten Kampar, diakibatkan oleh kondisi di waduk PLTA tersebut.
Menjawab tudingan itu, Syaminan Siregar membantah dengan mengatakan, PLTA bukan penyebab banjir.
"Malah PLTA mengendalikan air yang ada di sepanjang waduk, sehingga tidak membahayakan. Khan PLTA ini berfungsi sebagai pihak yang melaksanakan sistem 'water management'," tuturnya.
Dalam kaitan itu, menurutnya, PLTA harus memperhatikan kondisi di hulu dan di hilir waduk.
"Waduk PLTA ini mendapat pasokan air dari beberapa anak sungai, yaitu Sungai Pialan, Sungai Kapur nan Gadang, Sungai Takus, Sungai Batang Mahat, dan Sungai Gulamo," ungkapnya.
Malahan, ke arah waduk, lanjutnya, ada 17 anak Sungai Kampar lainnya yang sempat kondisinya menguap, sehingga membuat pasokan air ke dalam waduk sangat besar.
"Justru kalau pintu waduk tidak dibuka, maka akan menyebabkan kawasan hulu dan pemukiman di sekitarnya menjadi terendam. Makanya, pintu air dibuka guna menjaga situasi di hulu dan di hilir sama-sama baik," jelasnya.
Namun sebelum pembukaan pintu air pihaknya sudah melaksanakan tindakan antisipasi dengan mengirimkan surat kepada aparatur pemerintah dan bahkan langsung ke masyarakat desa.
Munculnya kondisi itu, demikian Syaminan Siregar, disebabkan rusaknya kawasan tangkapan air (catchman area) waduk PLTA sendiri.
"Yakni, ketika hujan turun, air tidak bisa diserap oleh hutan, akibatnya anak sungai meluap. Kondisi sebaliknya apabila kemarau, hutan juga tidak mampu menyimpan air, sehingga waduk kekurangan air, yang menyebabkan turbin tidak berfungsi dan kekurangan energi," paparnya.
Saat ini, menurut dia, pihaknya hanya bisa melakukan antisipasi dengan memberikan pengumuman kepada masyarakat.
"Yakni, mengenai kondisi waduk dan DAS-nya, agar masyarakat bisa bersiap-siap menghadapi berbagai kemungkinan akibat kondisi hujan atau situasi kemarau," jelas Syaminan Siregar.
Pewarta : Netty Mindrayani
Editor:
Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026

