Logo Header Antaranews Riau

Titik api tak terdeteksi satelit

Senin, 24 Oktober 2011 10:57 WIB
Image Print

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru, Provinsi Riau, Senin, mengungkapkan, satelit 'National Oceanic and Atmospheric Administration' 18 milik Singapura tidak lagi mendeteksi adanya titik api atau 'hot-spot' di kawasan Riau.

Selama ini, untuk kawasan Pulau Sumatera, titik api itu paling banyak tersebar di wilayah Provinsi Riau, yang merupakan penyebab timbulnya kabut asap, sehingga sering mengganggu transportasi serta memicu penyakit ISPA pada penduduk.

"Selang tiga hari terakhir, satelit 'Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration' (NOAA) 18 tidak bisa mendeteksi lagi kemunculan titik api di Riau," kata analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Yudistira Mawaddah kepada ANTARA.

Hilangnya 'hotspot' ITU, menurutnya, besar kemungkinan disebabkan tingginya intensitas hujan di beberapa wilayah yang menjadi langganan kebakaran lahan, seperti Kabupaten Bengkalis, Siak, Kampar, Rokan Hilir dan Kota Dumai.

Yudistira juga memprediksi sebagian besar wilayah provinsi 'kaya minyak' itu akan dirundung hujan dengan intensitas sedang pada waktu tertentu, sejak Minggu malam.

Disebutkan, titik kosentrasi peluang hujan diperkirakan mengarah ke Riau bagian utara, tengah dan timur, meliputi sebagian pesisir seperti Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis dan Meranti.

"Peluang hujan malam diperkirakan juga akan melanda sebagian Pekanbaru dan Kabupaten Kampar serta Siak," kata Yudistira.

Bahkan, lanjutnya, di beberapa wilayah Riau bagian utara seperti Kabupaten Siak dan Rokan Hulu, diprediksi akan lebih cepat di guyur hujan.

"Namun sifatnya masih lokal dan intensitasnya juga ringan. Hujan sore di Riau bagian utara diprediksi akan berlangsung cepat," ujarnya.

Mengenai suhu udara, Yudistira menyebutkan, sejak Minggu (23/10) sebagian besar Riau masih normal, yakni berkisar 32 hingga 33 derajat celsius.

Begitu juga dengan gelombang laut di pesisir seperti Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir dan Meranti serta Indragiri Hilir. Diperkirakan tinggi maksimal gelombang hanya mencapai 1,2 meter.

"Namun ketinggiannya bisa bertambah apabila terjadi tiupan angin cukup kencang atau diatas 40 kilometer per jam di perairan pesisir. Bahkan mau mencapai lebih dua meter," ungkap Yudistira Mawaddah.



Pewarta :
Editor: Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026