Karhutla Riau - Selamat datang di Bumi Asap Kuning!

id karhutla Riau, asap pekanbaru,kabut asap,gubernur riau,berita riau antara,berita riau terbaru,karhutla

Karhutla Riau - Selamat datang di Bumi Asap Kuning!

Masjid Raya An-Nur tampak samar-samar ketika kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (10/9/2019). ANTARA FOTO/FB Anggoro/aww.

Pekanbaru (ANTARA) - Bumi Lancang Kuning adalah julukan bagi Provinsi Riau yang sudah dikenal luas, mengambil nama dari legenda lancang atau kapal yang jadi alat transportasi raja dan bangsawan di Tanah Melayu dan sedangkan kuning identik dengan warna kebesaran kerajaan.

Seiring berkembangnya teknologi dan kemajuan zaman, Lancang Kuning kini hanya menjadi simbol di Provinsi Riau. Pertumbuhan ekonomi kian pesat dan pembangunan kian lancar akhirnya membuat Riau semakin maju dengan beragam infrastruktur.

Lahan gambut yang subur menjadikan daerah ini cocok untuk dijadikan areal perkebunan. Di Indragiri Hilir dikenal sebagai daerah Bumi Nyiur dengan produksi kelapanya. Lahan gambut yang membentang di banyak wilayah, sejak puluhan tahun terakhir dijadikan sebagai perkebunan sawit yang mampu menyokong pertumbuhan ekonomi Riau dan negara tercinta ini.

Itu baru di permukaan. Di dalam tanah masih ada jutaan barel minyak bumi yang belum disedot. Maka ada istilah untuk menggambarkan kekayaan Bumi Lancang Kuning ini, salah satunya adalah "Riau, di atasnya minyak, di bawah minyak". Tak heran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbanya menyebut Riau adalah salah satu dari tiga provinsi terkaya di Indonesia selain Papua dan Kalimantan Timur.

Namun kekayaan alam itu seolah sirna karena cara memperlakukan alam dengan cara yang tidak ramah, mudah dan murah. Membakar hutan dan lahan!

Baca juga: Karhutla Riau - Berusaha padamkan api, kakek di Inhil tewas terbakar

Seorang warga mengenakan kostum superhero membantu petugas BPBD Riau dan TNI Kodim 0313 Kampar saat memadamkan kebakaran lahan gambut di Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (12/9/2019). Warga bernama Yandri itu membantu pemadaman sebagai bentuk dukungan terhadap seluruh petugas yang tengah berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau dan mengajak seluruh masyarakat maupun perusahaan yang ada di Riau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)


Sejak sekitar dasawarsa terakhir, setiap tahun kebakaran hutan dan lahan muncul di Riau dan daerah lain yang memiliki areal perkebunan sawit yang luas seperti Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Namun tahun ini, kebakaran hutan dan lahan terbanyak terjadi di Riau, khususnya di Pulau Sumatera.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dalam kurun Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare, dan Riau merupakan daerah terluas dilanda kebakaran hutan di Sumatera, yakni mencapai 49.266 hektare. Kebakaran di Riau paling banyak terjadi di lahan gambut mencapai 40.553 ha, dan tanah mineral 8.713 ha.

Kondisi itu menyebabkan kualitas udara di sebagian besar di wilayah Riau tergolong berbahaya. Penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) saat ini rata-rata menunjukkan angka 300 dan masuk kategori berbahaya.

Di sini baru terasa bahwa udara bersih adalah sesuatu yang mewah dan susah didapatkan. Ratusan mahasiswa turun ke jalan minta Gubernur Riau dan aparat terkait agar menuntaskan bencana tahunan ini. Celakanya beberapa mahasiswa yang ikut demo justru pingsan terpapar asap. Bahkan Presiden pun diminta turun ke Riau untuk meninjau secara langsung. Kita masih menunggu.

Baca juga: Karhutla Riau - VIDEO - Miris, pendidikan di Pekanbaru lumpuh akibat kabut asap Karhutla

Seorang warga yang mengenakan masker melintas di dekat papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (10/9/2019). ANTARA FOTO/FB Anggoro/wsj.


Ribuan orang di berbagai daerah sudah menggelar salat istisqa namun hujan hanya turun beberapa tetes saja dalam beberapa pekan terakhir.

Saat Salat Idul Adha pada 11 Agustus 2019 di pelataran Masjid An Nur Pekanbaru, sang Khatib Ustaz Zulhendri Rais mengatakan bencana asap di Riau ini bisa saja terjadi akibat kelalaian manusia atau para pemimpinnya. Bisa saja asap ini adalah teguran dari Sang Pencipta.

Asap saat ini kian parah, dan sudah merasuk ke celah-celah rumah. Masyarakat pasrah. Penyakit ISPA, batuk, iritasi mata dan kulit sudah merambah. Terbaru, ada seorang kakek di Indragiri Hilir yang menjadi jenazah karena berjuang memadamkan api namun tak kuasa melawanya.

Ingat, Riau masih merupakan daerah kaya. Di atasnya minyak, di bawah minyak. Sekarang kekayaan itu bertambah, bertambah asap. Di atas asap masih ada asap.

Selamat datang di "Bumi Asap Kuning".

Baca juga: Karhutla Riau - Waduh, kabut asap mulai ganggu penerbangan di Bandara Pekanbaru

Baca juga: Karhutla Riau - Jembatan Siak IV Pekanbaru seperti hilang ditelan kabut asap pekat

Baca juga: Karhutla Riau - kabut asap kian pekat, jarak pandang di Riau hanya tersisa 200 meter


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar