Mengupas Motor Listrik Harley-Davidson, Benarkah Mirip Sepeda Gunung?

id harley-davidson,motor,motor listrik

Arsip foto. Logo Harley-Davidson yang legendaris. (Antaranews)

Pekanbaru (ANTARA News) - Pabrikan motor besar Amerika Serikat, Harley Davidson, menunjukkan keseriusannya dalam merancang versi produksi sepeda motor listrik. Langkah kebijakan ini sangat bertolak belakang dengan sejarah motor ini yang sudah dikenal berbodi besar, kencang, dan boros bahan bakar.

Berikut ini fakta-fakta yang dirangkum Antara News terkait rencana besar Harley-Davidson (HD) untuk masa depannya:

1. Targetkan Segmen Usia Muda

HD berencana menggarap sepeda motor listrik bermodel skuter, dengan harapan teknologi ramah lingkungan itu dapat menarik konsumen dari segmen usia yang lebih muda.

Ini karena pabrikan Amerika yang terkenal melalui produk sepeda motor ikonik berukuran besar dengan suara mesin yang menggelegar itu, mengalami penurunan penjualan dalam empat tahun terakhir, dilansir Daily Mail, Selasa (5/2).

Dua konsep kendaraan listrik itu diperkenalkan di X Games, sebuah acara snowboarding dan ski, di Colorado pada pekan lalu.

Rencana untuk menarik minat konsumen muda memang perlu didalami HD. Menurut data terbaru, sekitar 46 persen dari pemakai Harley-Davidson berusia di atas 50 tahun, dan hanya 10 persen yang berusia 30-34 tahun.

Jika kendaraan model itu benar-benar dipasarkan, pemilik akan lebih dimudahkan karena baterai dapat di-charge di rumah.

Baca juga: Jaguar Terancam Bangkrut, Begini Fakta Redupnya Mobil Mewah Inggris itu

Sepeda motor listrik konsep Harley-Davidson. (ANTARA News/Harley-Davidson)


2. Mirip Sepeda Gunung

Pada acara X Games, HD menujukkan dua model. Yang pertama berdesain layaknya skuter, sedangkan satunya lagi lebih mirip sepeda gunung.

Juru bicara Harley mengatakan kedua model itu "meliputi powerplants" dan "mengusung emosi liar ke dalam masa depan" melalui "desain yang unik".

Perusahaan dikabarkan telah menanamkan model 50 juta dolar AS demi mengembangkan teknologi listrik. Harley juga akan meluncurkan sepeda motor listrik LiveWire di Amerika Utara dan Eropa Barat pada tahun ini.

Purwarupa kendaraan itu bahkan sudah pernah ditunggangi Scarlett Johansson dalam film The Avengers: Age of Ultron.

Baca juga: BMW Indonesia Siapkan 10 Mobil Baru Tahun ini, Berikut ini Ulasannya

3. Harga Tetap Mahal

HD yang telah mewarnai industri sepeda motor dalam 116 tahun terakhir, pada awal tahun ini memperkenalkan dua konsep sepeda motor barunya yang ditenagai listrik.

Dua sepeda motor listrik konsep ini hadir setelah sebelumnya Harley-Davidson mengumumkan motor besar listriknya, LiveWire, yang dibanderol dengan harga 29.799 dolar (hampir Rp420 juta).

Dua sepeda motor listrik konsep itu mengeksplorasi potensi mobilitas perkotaan masa depan yang mengadopsi kendaraan roda dua, selain upaya HD dalam memperluas pasar.

Sepeda motor listrik itu dirancang memiliki kelincahan dan kemampuan manuver untuk pengalaman berkendara, serta kemudahan dalam penggunaan, menurut Harley-Davidson dalam pernyataan resminya.

Karena untuk pengguna perkotaan yang punya mobilitas tinggi, Harley merancang baterai untuk dua motor konsepnya itu, bisa dilepas, dan memungkinkan untuk dibawa ke ruang kantor atau untuk diisi daya di rumah.

Meski begitu, HD tidak mengungkapkan kapan kedua sepeda motor listrik konsep yang ringan itu akan diproduksi secara masal, demikian laman.

Sepeda motor listrik konsep Harley-Davidson. (ANTARA News/Harley-Davidson)


4. Pusat Riset Silicon Valley

HD dalam merancang versi produksi sepeda motor listrik telah membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di California.

Fasilitas riset yang berbasis di Silicon Valley itu akan mengembangkan model sepeda motor listrik dan teknologi baterai, sekaligus merancang desain sepeda motor yang sesuai dengan minat pasar di masa depan.

Presiden dan CEO Harley Davidson, Matt Levatich, pada September 2018 sempat mengatakan perusahaan itu mempercepat rencana memproduksi generasi penerus Harley-Davidson secara global, yaitu versi berpenggerak listrik.

"Fasilitas R&D baru di Silicon Valley akan membantu kami mewujudkan rencana tersebut dan menunjukkan komitmen untuk memimpin elektrifikasi," kata Matt Levatich yang dilansir Economic Times.

Fasilitas yang digadang-gadang beroperasi akhir 2018 atau awal 2019 itu, ditujukan untuk memperluas portofolio produk kendaraan listrik melalui produk yang lebih ringan dan lebih kecil, kemudian akan masuk ke pasar pada 2022.

Perusahaan juga tengah mencari para insinyur listrik, mekanik dan ahli perangkat lunak untuk bekerja di pusat riset itu.

Baca juga: Toyota EXPO, Tampilkan All New Toyota Avanza 2019

Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar